image
2011 ACURA TL

Front-wheel-drive car
280-horsepower 3.5-liter V6 engine
5-speed automatic transmission

Read More
image
Alfa Romeo GIULIA

Price: USD 35,000 range
Engine: Pentastar 3.3-liter V6 engine with MultiAir technology
Horse Power: approximately 300 horsepower

Read More
The Alfa Romeo 169 is an all new rear wheel drive design study from the Italian automaker and is slated to replace the Alfa Romeo 166 due to the current sedan’s lackluster sales performance. Read More

Hobi

Olahraga

  • Marco Huck Marco Huck (born November 11, 1984 as Muamer Hukić in Sjenica, Serbia) is a German professional boxer...

Otomotif

  • Giulia Alfa Romeo is gearing up for the release of its latest baby, the Giulia. It’s a long time coming considering...

MISTERI DUNIA

Artefak Coso

Last Updated on Friday, 24 December 2010 08:49

Tags: artefak coso | artikel | misteri dunia | temuan arkeologi

Sebuah Oopart (Out Of Place ARTifact / Artifak yang tidak pada tempatnya) adalah suatu istilah yang diberikan pada lusinan obyek prasejarah yang ditemukan pada berbagai tempat di seluruh dunia dengan tingkat teknologi yang sepenuhnya berbeda dengan penentuan usianya bila didasarkan secara fisik, kimia dan atau dengan bukti geologinya.

Artifak yang tidak pada tempatnya itu seringkali membuat frustasi para ilmuwan konvensional dan merupakan sesuatu yang menggembirakan bagi para penyelidik petualang dan individu-individu yang tertarik pada teori ilmiah alternatif.

Mengoleksi spesimen untuk melengkapi toko batunya selama ekspedisi 1961, para pemburu harta karun Wallace Lane, Virginia Maxey dan Mike Mikesell menemukan sebuah artifak aneh di ketinggian Pengunungan Coso Kalifornia, AS.

Grup itu berada di lapangan yang biasanya mereka selidiki, mencari geode (batu dengan rongga kecil yang rongganya terlapisi oleh kristal atau bahan mineral lain) untuk tokonya.

Tetapi hari berikutnya ketika Mikesell mulai memotong temuan-temuannya untuk persiapan dipamerkan, ternyata salah satu spesimen sangat keras sehingga merusak pisau gergaji intannya yang baru. Sebagai ganti dari lapisan kristal kuarsa yang biasanya ada di bagian dalam sebuah geode, ia menemukan sebuah komponen mirip porselen yang tertancap pada batu itu.

Maxey menghubungi seorang ahli geologi yang mencatat fosil-fosil yang menempel di sekitar spesimen, usia artifak batu yang tertempel itu antara 100.000 dan 500.000 tahun. Tidak yakin akan apa yang dilakukan kemudian dengan temuannya yang tidak biasanya itu, grup itu mengirimkan artifaknya ke Charles Ford Society, yang menyediakan sinar-X untuk dapat mengetahui lebih detail benda itu.  

Para peneliti itu bingung setelah menemukan bahwa komponen yang terdapat di dalamnya memperlihatkan suatu tingkat teknologi yang sama dengan peradaban kita sekarang ini. Temuan ini mengesankan adanya budaya kuno yang mungkin telah mencapai suatu kemampuan teknik yang sama dengan zaman moderen. 

Tentunya tidak seorangpun percaya cerita artifak kuno itu. Secara khusus para peneliti seperti Pierre Stromberg dan Paul Heinrich bersikeras bahwa temuan itu dapat dipastikan adalah sebuah busi moderen. Mereka berpendapat bahwa benda itu dapat saja terperangkap dalam padatan besi (II) belerang (ferrous / ferro sulfida) yang terbentuk akibat oksidasi dari benda itu, sehingga memberikan penampilan yang mirip dengan sebuah benda peninggalan kuno.

Begitu penyelidikan pada artifak Coso dilanjutkan, hasil foto sinar-X dari benda itu dikirimkan kepada empat kolektor busi yang berbeda di seluruh Amerika, untuk menguji teori "busi" tersebut.

Pada 1999, Presiden Kolektor Busi Amerika/Spark Plug Collectors of Amerika (SPCA) Chad Windham, orang yang pada dasarnya percaya bahwa hasil foto sinar-X itu adalah sebuah lelucon praktis yang dijadikan permainan di komunitas kolektor busi, menyimpulkan bahwa spesimen itu sebenarnya adalah sebuah busi model Champion dari tahun 1920-an.

Ia mengenalinya seperti semacam busi yang pernah ditemukan pada mobil Ford Model-T. Jadi banyak yang menyimpulkan bahwa spesimen itu hanyalah sebuah komponen dari sebuah kendaraan kuno yang pernah berada di pegunungan tersebut.

Namun masih banyak yang bersikeras bahwa komponen yang tertancap pada batu itu menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingkan dengan busi yang diuraikan Windham.

Mereka menunjuk pada sebuah pegas atau spiral pada salah satu ujung dari komponen itu yang tidak diperlihatkan pada sebuah busi moderen. Sebagian bahkan percaya bahwa komponen itu mungkin suatu bagian dari sebuah mesin waktu yang telah tertinggal. Namun studi lebih lanjut terhadap spesimen itu sekarang belum memungkinkan. Seperti halnya perdebatan Oopart lainnya, keberadaan Coso Artifak itu, masih tetap merupakan teka teki.
 

Bukti adanya manusia raksasa

Last Updated on Friday, 24 December 2010 08:50

Tags: artikel | Bukti adanya manusia raksasa | misteri dunia | temuan arkeologi

Meski sudah beberapa bukti ditemukan, masih banyak orang yang meragukan eksistensi manusia raksasa. Para ilmuwan bahkan penasaran terhadap kemungkinan pernah hidupnya jenis manusia besar ini. Atas dasar itulah, sekelompok ilmuwan Rusia mengadakan penelitian sejak awal tahun 2005 lalu di Suriah, Mesir, Lebanon, dan kawasan lainnya di Arab Saudi.

Pelacakan tim ilmuwan Rusia yang dipimpin Ernst Muldashev ini ternyata tidak sia-sia. Menurut laporan Trust Rusia pada 1 Desember 2005 lalu, mereka telah memperoleh penemuan penting dalam penyelidikan bersejarah atas keberadaan manusia raksasa di planet kita ini. Tidak hanya ditemukan jejak kaki manusia raksasa, mereka juga menjumpai makam manusia raksasa.


Ernst Muldashev menunjuk beberapa contoh makam manusia raksasa. Dan salah satu di diantaranya adalah makam Abel, terletak di sekitar Damaskus ibukota Suriah. Panjang makam kurang lebih enam meter, dan lebar sekitar 1.8 meter. Di daerah lain di Suriah juga banyak ditemui makam manusia raksasa, di mana salah satu di antara manusia raksasa dalam kuburan itu tingginya mencapai 7.5 meter.


Hanya saja mereka kurang leluasa mengadakan penelitian ini karena adanya faktor penghambat. Menurut, Ernst Muldashev, warga setempat dengan alasan agama dan faktor lainnya tidak menyokong penyelidikan ini. Belakangan ini karena kerusakan makam yang ditimbulkan pencari harta karun, sedikit banyak mereka berpeluang mendekati sejumlah makam.


Hasil temuan ilmuwan Rusia ini bukanlah suatu yang kebetulan. Karena, selain legenda dari berbagai bangsa di dunia tentang manusia raksasa dalam budaya barat dan timur, juga banyak dicatat dalam buku sejarah. Sejumlah besar penemuan arkeologi belakangan ini juga sudah membuktikannya.


Lihat saja penemuan jejak kaki raksasa di sebuah palung sungai Paluxy di Glen Rose, Texas AS, serta lukisan raksasa yang ditemukan di etsa lapisan terbawah padang pasir timur Los Angeles, California, AS. (Lihat tabloid Era Baru edisi 14/Tahun I 2003). Selain itu juga ditemukannya kerangka tulang manusia raksasa oleh tim eksplorasi ARAMCO dalam eksplorasi ladang minyak di kawasan Empty Quarter, sebelah Timur Arab Saudi.


Koran Travelling Thailand pada edisi 02 Juni 2005, juga melaporkan bahwa bencana Tsunami di samudera Hindia pada 26 Desember2005 lalu telah menyebabkan kerangka manusia raksasa purba terapung dipermukaan laut. Kerangka manusia besar dengan tinggi 3.1 meter ini ditemukan di kepulauan PP Thailand, dan sempat menjadi perhatian banyak orang.


Begitu juga laporan CNA, Singapura pada awal 2006 ini. Disebutkan di negara bagian Johor, Malaysia yang berbatasan dengan Singapura tersiar kabar adanya manusia raksasa dengan tinggi hampir tiga meter. Menurut laporan media Singapura dan Malaysia, ada yang pernah melihat manusia liar di hutan sekitar air terjun, Johor. Setelah berita itu tersebar, lembaga himpunan alam Malaysia lalu kesana melakukan pencarian, namun, sampai sekarang tidak ada hasil. Dinas Pertamanan Nasional Johor menuturkan, mereka tidak punya data terkait, dan tidak dapat membuktikan manusia liar itu benar-benar eksis atau tidak.


Penduduk setempat yang pernah melihat manusia liar itu menceritakan, manusia liar itu tingginya hampir tiga meter, jejak kaki yang ditinggalkan panjangnya 50 cm, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bulu lebat, celah giginya besar, wujudnya persis seperti gorila, dan kerap muncul di hutan sekitar air terjun. Setelah kabar tentang manusia liar bertubuh besar ini tersebar luas, himpunan alam Malaysia lalu membawa serombongan reporter, menyelami hutan di sekitar air terjun, Johor, mencari jejak manusia liar.


Kepada media, penanggung jawab himpunan alam Malaysia itu menuturkan, bahwa manusia liar meninggalkan jejak kaki sepanjang 50 cm di berbagai tempat. Namun, dinas pertamanan nasional Johor mengatakan, karena tidak mempunyai data yang lengkap, tidak dapat dipastikan makhluk apa sesungguhnya manusia liar yang diceritakan penduduk setempat tersebut
 

Penemuan perahu Mesir Kuno Berumur 4000 Tahun

Last Updated on Friday, 24 December 2010 08:51

Tags: artikel | misteri dunia | temuan arkeologi


 
Reruntuhan kapal laut berumur 4000 tahun silam yang ditemukan dalam gua-gua buatan manusia menunjukkan bahwa orang Mesir kuno memiliki kemampuan mengarungi laut yang bergelora, berombak ganas untuk sampai ke “Pulau Dewata” yang dikenal dalam hikayat mereka bernama “Punt”.


Enam buah gua berbentuk batu karang, terpotong menjadi sebuah tebing yang curam di Wadi Gawasis, 21 km di sebelah Selatan Kota Port Safaga di Laut Merah, ditemukan oleh sebuah tim ilmuwan internasional, termasuk ahli perkapalan kuno, Cheril Ward dari Universitas Negeri Florida, Amerika Serikat. “Gua-gua tersebut pada masa lalu digunakan oleh orang Mesir kuno sebagai bengkel kerja dan gudang untuk melindungi peralatan dari keadaan padang gurun yang tidak bersahabat”, jelas Profesor Ward.


Masih menurut Profesor Ward, situs arkeologi tersebut bagaikan sebuah markas militer, dan artefak yang ada di sana menunjukkan adanya para administrator terbaik yang pernah dikenal dunia. “Ini merupakan situs yang telah menyimpan demikian banyak rahasia yang dimilikinya selama 40 abad,” ujarnya.


Pada papan-papan kayu, yang merupakan kayu kapal tertua di dunia, ditemukan cacing-cacing kapal yang menunjukkan bahwa pelayaran kapal tersebut berlangsung selama beberapa bulan. Cacing-cacing tersebut ditemukan bersamaan dengan kotak-kotak kargo, jangkar-jangkar batu, lebih dari 80 gulungan tali yang tersimpan dengan sempurna, dan sebuah lempengan batu bertuliskan lima nama ningrat dari Farao Amenemhat III yang berkuasa dari tahun 1844 hingga 1797 SM. Artefak-artefak tersebut tersimpan dengan sangat baik karena gua-gua tersebut ditutup rapat setiap kali perahu itu habis berlayar.


Pusat niaga di Punt, diperkirakan berada di Ethiopia atau di Yaman, berjarak 1600 km dari gua-gua tersebut. Bagaimana orang-orang Mesir kuno berlayar ke tempat ini, seperti yang ada dalam tulisan Mesir kuno pada kotak-kotak kargo yang ditemukan dalam gua-gua tersebut, sampai kini masih merupakan rekaan dan spekulasi. Banyak ahli tidak percaya orang-orang Mesir kuno memiliki teknologi pelayaran yang demikian maju, namun penemuan-penemuan di Wadi Gawasis memberikan bukti kuat yang menunjukkan bahwa orang-orang Mesir kuno telah memiliki kemampuan melakukan pelayaran jarak jauh.


Profesor Ward menginterpretasikan penemuannya lebih lanjut. “Pada sejumlah kayu masih tercantum nomor yang boleh jadi merupakan sebuah petunjuk dalam perakitan. Ward menduga kapal-kapal ini pada awalnya dibuat di galangan kapal di Sungai Nil, kemudian bagian-bagian kapal yang bisa dirakit kembali dibawa menyeberangi padang gurun sejauh 140 km menuju Laut Merah, dimana dilakukan perakitan dan peluncuran kapal.”


Ketika pelayaran telah selesai, kapal-kapal ini di bongkar kembali dan bagian-bagian yang telah dipisahkan satu sama lain siap diangkut pulang ke Sungai Nil untuk digunakan di kemudian hari. Menurut perkiraan Profesor Ward, sebanyak 3700 pria mungkin telah terlibat dalam seluruh ekspedisi ini. Pelayaran ini tertata dan terselenggara dengan sangat baik, namun tampaknya sebuah masa ketidakstabilan politik telah membuat pelayaran ini terhenti, lanjut Profesor Ward, dan meninggalkan gua-gua serta harta karun mereka terkunci selama 40 abad. Rincian studi ini akan dipublikasikan dalam penerbitan Jurnal Internasional Arkeologi Kelautan, dan sebuah studi lebih lanjut pada situs tersebut akan dilakukan tahun depan.
   

Insiden Dropa

Last Updated on Friday, 24 December 2010 08:51

Tags: artikel | insiden dropa | misteri dunia | temuan arkeologi

“Dropa turun dari awan dengan pesawat terbang layangnya.

Sebanyak sepuluh kali para pria, wanita dan anak-anak Kham bersembunyi di dalam gua-gua sampai matahari terbit.

Kemudian mereka memahami tanda-tanda dan mengerti bahwa Dropa datang dalam damai saat ini."

Kalimat-kalimat tersebut di atas adalah terjemahan huruf-huruf asing yang tertera pada Cakram Dropa oleh Dr. Tsum Um Nui.

Satu-satunya warisan pesawat karam dari kaum Dropa yang tertinggal pada penduduk asli Bayan Kara Ula adalah pesawatnya yang mirip burung layang-layang dan pemusnahan yang dahsyat.

Menurut penuturan sejarah penduduk setempat, penduduk daerah tersebut jijik dengan postur tubuh Dropa yang kurang baik dan kemudian memimpin penganiayaan terhadap “pendatang dari langit” ini. Menghadapi serangan ini, Dropa yang kecil dengan kepalanya yang bulat dan sepasang mata yang mirip dengan mata bengkak hampir seluruhnya tersapu bersih pada 10.000 tahun Sebelum Masehi.

Meski melangkah 12 abad ke depan namun sejarah Dropa yang tidak masuk akal ini masih tetap hidup. Seandainya bukan karena ekspedisi Profesor Chi Pu Tei dari Universitas Beijing pada 1938, maka dongeng yang tidak lazim ini mungkin tidak pernah melewati garis perbatasan dari daerah gunung padang pasir Bayan Kara Ula yang terletak pada perbatasan antara Tiongkok dan Tibet.

Chi Pu Tei dan siswanya sedang mempelajari suatu sistem interkoneksi gua-gua dalam suatu daerah yang paling tidak ramah di dunia, hampir 400 mil dari penduduk terdekat. Dikatakan bahwa profesor tersebut menemukan sesuatu yang lebih istimewa dalam gua-gua tersebut dibandingkan dengan hal yang ia ingin pelajari, yakni sebuah pemakaman yang penuh dengan kerangka makhluk-makhluk kecil yang tingginya hanya kurang dari 4 kaki (1,2 meter), terkubur bersama-sama dengan cakram-cakram batu dan lukisan-lukisan gua yang sangat istimewa.

Tubuh-tubuh yang rapuh ini memiliki kepala besar yang tidak lazim dan tidak berhubungan dengan spesies jenis apapun yang sebelumnya pernah diketahui oleh Chi Pu Tei.

Ketika diusulkan bahwa sisa peninggalan tersebut mungkin saja milik dari suatu spesies primata (kera), Chi Pu Tei menjawab, “Siapa yang pernah mendengar kera-kera saling menguburkan satu dengan yang lain?” Tujuh ratus dan enam belas cakram-cakram yang sudah diidentifikasi dikirim ke Universitas Beijing dan beberapa lainnya dikirim ke Uni Soviet.

Cakram-cakram tersebut garis tengahnya hampir satu kaki, tebalnya sepertiga inci dan masing-masing memiliki sebuah ukiran lingkaran atau empat persegi panjang pada bagian pusatnya yang terbuka. Dan yang lebih penting lagi adalah sebagian besar memiliki sepasang alur spiral kecil dengan huruf asing yang terukir mulai dari bagian luar dari cakram, yaitu dari pinggir sampai ke pusat.

Pada 1958, seorang peneliti bernama Dr. Tsum Um Nui ikut ambil bagian pada suatu studi yang mempelajari lebih detail cakram batu yang misterius ini.

Pada 1962, setelah menghabiskan beberapa bulan mempelajarinya dengan bantuan kaca pembesar, Dr. Tsum mengartikan kode-kode yang ada pada batu-batu tersebut.

Batu tersebut menceritakan sejarah yang tak dikenal seperti pendaratan darurat pesawat Dropa dan yang pada akhirnya membawa mereka tewas di tangan penduduk lokal. Dr. Tsum menjelaskan temuannya ini kepada rekan sekerjanya pada tahun itu juga.

Di samping penemuan yang menakjubkan ini, mereka yang kontroversial atas terungkapnya penemuan oleh Dr. Tsum mendesak para pejabat Universitas Beijing untuk melarang siapa saja yang ingin mengatakan penemuan ini.

Beberapa tahun kemudian ketika dokumen-dokumen tersebut dibersihkan demi kepentingan politik, hasil kerja Dr. Tsum seluruhnya dicemooh oleh rekan-rekan sekerjanya.

Berita tentang cakram tersebut tidak pernah muncul lagi sampai 1974, ketika seorang insinyur berkebangsaan Austria bernama Ernst Wegner dengan menggunakan kamera Polaroid memotret dua cakram yang berada pada etalase Musium Bampo di kota Xi’an. Dia dengan segera mengenal karakteristik alur spiral dan bukaan tengah yang sebelumnya pernah mendengar desas-desusnya.

Dengan sejarah yang sangat menarik seperti itu, akan menjadi apa cakram Dropa tersebut? Satu-satunya bukti konkrit yang diketahui yang masih ada adalah sepasang foto Wegener.

Diduga, banyak orang-orang yang terlibat dalam cerita ini tidak dapat dibuktikan. Bagian tempat penyimpanan dokumen Universitas Beijing tidak mempunyai catatan tentang ekspedisi Bayan Kara Ula maupun keberadaan seorang peneliti yang bernama Tsum Um Nui.

Mungkin selagi kekurangan bukti sehingga membuat sebagian orang percaya bahwa cakram-cakram tersebut mungkin tidak pernah ada, dengan pertimbangan bahwa banyak arkeologi kontroversial Tiongkok juga menderita penindasan yang serupa.

Penutupan kasus-kasus seperti piramida Tiongkok, atau pun mumi orang Kaukasia yang berusia 4.000 tahun yang ditemukan di padang pasir TakliMakán, merupakan sebuah peringatan bahwa pengambilan kebijakan atas blokade hal seperti itu sungguh sangat tidak dapat dinalar.

Jika memang benar sejarah yang diceritakan pada cakram-cakram yang tersusun begitu rapi dan cocok sekali dengan tradisi yang disampaikan secara lisan selama generasi ke generasi di daerah Bayan Kara Ula, maka hal itu menimbulkan pertanyaan bagaimana sebuah cerita yang kompleks seperti itu dapat berkembang di antara penduduk asli terhadap sebuah pesawat luar angkasa yang jatuh dari langit 12.000 tahun yang silam, kalau seandainya hal itu benar-benar tidak terjadi.

Perawakan tubuh manusia Dropa yang pendek, bentuknya yang aneh dan terjadinya pembantaian, semuanya muncul pada cerita yang tertera di pemakaman Dropa dan legenda kuno yang diceritakan oleh penduduk setempat.

Akan tetapi tanpa bukti yang kuat, cerita tersebut tetap sulit diterima. Barangkali sejumlah besar artifak-artifak yang berhubungan dengan Dropa telah disalah artikan, baik dengan disengaja ataupun tidak. Kita hanya tinggal bertanya-tanya dalam hati mungkinkah cakram-cakram batu dan dongeng kuno penduduk lokal tersebut menyembunyikan suatu kebenaran yang bahkan lebih besar lagi.

 

Ukiran Stegosaurus di kuil di Kamboja

Last Updated on Friday, 24 December 2010 08:51

Tags: artikel | misteri dunia | temuan arkeologi

Teka-teki Kriptozologi dapat muncul dari tempat yang paling tidak disangka. Kali ini tempat itu adalah negara Kamboja. Salah satu situs paling terkenal di wilayah itu adalah kuil hutan Ta Prohm yang dibangun sekitar 800 tahun yang lalu. Seperti monumen-monumen lain yang berasal dari periode yang sama, maka monumen ini juga dipenuhi oleh ukiran-ukiran bernafaskan mitologi Budha dan Hindu. Namun ada satu ukiran yang membingungkan para arkeolog. Dekat dengan pintu keluar kuil, ditemukan sebuah ukiran makhluk berkepala kecil, berkaki empat dan membawa sirip berbentuk berlian di punggungnya. Gambar yang menyerupai seekor Stegosaurus !


Ta Prohm adalah sebuah kuil yang dibangun oleh peradaban Khmer sekitar tahun 1181 Masehi. Kuil ini ditemukan kembali pada abad ke-16 oleh para misionaris katolik dan penjelajah Portugis.




Untuk diketahui, Stegosaurus adalah makhluk yang tidak dikenal sebelum tahun 1877. Othniel Charles Marsh yang menemukan tulang belulang makhluk itu memberi nama "Stegosaurus" pada makhluk itu. Arti nama itu sendiri adalah kadal atap. Marsh beranggapan bahwa sirip-sirip di punggungnya menyerupai genteng di atap rumah.

Ukiran hewan ini begitu populer di kalangan pemandu wisata yang sering bertanya kepada para turis apakah mereka percaya Dinosaurus masih hidup 800 tahun yang lalu. Lalu mereka akan menunjukkan gambar ini kepada para turis. Apakah mungkin ukiran itu sebuah tipuan modern yang dibuat untuk menipu para turis? ataukah ukiran itu benar-benar sebuah artefak kuno seperti yang lain ? Mungkinkah para pendiri kuil tersebut pernah menyaksikan fosil Stegosaurus, atau bahkan pernah menjumpai makhluk tersebut dalam keadaan hidup ?

Beberapa orang telah mencoba untuk menolak teori bahwa ukiran tersebut adalah Stegosaurus. Mereka mengemukakan teori bahwa ukiran itu adalah ukiran seekor Badak dengan ornamen di pinggir dalam lingkaran sehingga menimbulkan efek Stegosaurus.

Namun saya memiliki teori sendiri. Saya berpendapat bahwa ukiran tersebut adalah benar seekor Stegosaurus. Inilah sebabnya :

Pertama, Saya membandingkan ukiran Stegosaurus tersebut dengan ukiran hewan-hewan lain di kuil itu. Saya menemukan banyak ukiran hewan lain di kuil itu tidak memiliki ornamen di dalam lingkaran. Seperti gambar di bawah ini :

Kemudian, saya menemukan ukiran hewan yang memiliki ornamen seperti sirip punggung stegosaurus. Namun, semua ornamen itu memiliki persamaan, yaitu diukir DILUAR LINGKARAN. Tidak ada satupun ukiran yang memiliki ornamen DIDALAM LINGKARAN (Ukiran Stegosaurus memiliki juga ornamen di luar lingkaran). Lihat gambar dibawah ini.



Apabila sirip itu adalah sebuah ornamen, Mengapa hanya "Badak" itu yang mempunyai ornamen DIDALAM LINGKARAN ? Jawabannya Jelas ! Itu bukan sebuah ornamen.

Jadi saya berkesimpulan bahwa ukiran tersebut adalah benar-benar ukiran Stegosaurus. Namun ada kemungkinan ukiran itu ditambahkan setelah tahun 1877 oleh tangan jahil dari seseorang yang hendak membuat bingung orang lain. Hal ini terjadi di Katedral Salamanca di Spanyol yang dibangun pada tahun 1102. Pada dinding katedral yang berumur 900 tahun tersebut ditemukan ukiran seseorang dengan baju astronot lengkap. Hal ini memicu diskusi berkepanjangan di internet. Hanya sedikit yang mengetahui bahwa ukiran itu sebenarnya ditambahkan pada tahun 1992 ketika Katedral direstorasi. Bisa saja hal yang sama terjadi di kuil Ta Prohm. Namun sampai saat ini tidak ada informasi bahwa penambahan ukiran itu pernah dilakukan.

Atau mungkin..... Stegosaurus memang pernah berkeliaran di Kamboja 800 tahun yang lalu.

 

   

Page 1 of 2

Members : 4
Content : 463
Web Links : 2
Content View Hits : 172156

Kesehatan

Sejarah

  • Manusia Purba di Indonesia Penelitian manusia purba di Indonesia dilakukan oleh : 1.         Eugena Dobois, Dia adalah yang...

Gosip

Misteri Dunia

Islam

  • ISLAM DATANG, PAGAN HILANG Orang-orang Yahudi di negeri-negeri Arab merupakan kaum imigran yang besar, kebanyakan mereka tinggal...