
Front-wheel-drive car
280-horsepower 3.5-liter V6 engine
5-speed automatic transmission

Price: USD 35,000 range
Engine: Pentastar 3.3-liter V6 engine with MultiAir technology
Horse Power: approximately 300 horsepower
Last Updated on Tuesday, 11 January 2011 19:09
KOMPAS.com — Rasa pedas menyengat di lidah ketika menyantap cabai sering membuat orang kapok meski lebih banyak yang justru ketagihan. Tak heran jika ada istilah kapok lombok, yang artinya meski kapok, tapi masih mencari lagi.
Belakangan diketahui rasa panas dan pedas dari cabai tersebut memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Capcaisin, kandungan kimia di balik rasa pedas cabai, dalam beberapa tahun terakhir ini menarik perhatian para ilmuwan untuk diteliti secara khusus.
Para ilmuwan menemukan kaitan antara rasa panas dan pedas cabai dengan penangkal rasa sakit. Dr Michael Caterina dari Amerika Serikat dalam risetnya menyebutkan capcaisin mengaktifkan sebagian kelompok saraf di lidah, bibir, dan kulit.
Pada kondisi ini capcaisin bertanggung jawab dalam mendeteksi adanya stimulan rasa sakit. Pada masa depan bukan tidak mungkin akan diciptakan obat pengurang rasa sakit dengan kandungan utama capcaisin.
Selain sebagai penghilang sakit, menurut penjelasan dr Ari F Syam, SpPD, capcaisin juga punya efek antiradang, meningkatkan nafsu makan, dan mengatasi sembelit. "Cabai memang bisa meningkatkan peristaltik usus sehingga merangsang seseorang untuk buang air besar," katanya.
Selain capcaisin, cabai juga mengandung vitamin C, A, mineral, antioksidan, dan serat. "Cabai bisa meningkatkan metabolisme tubuh sehingga pembakaran kalori lebih baik. Ini bisa dipakai untuk mengontrol berat badan," kata pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Pada penderita sakit mag, makanan pedas dan asam memang sebaiknya dihindari. "Jika sakit magnya membaik, masih bisa mengonsumsi cabai walau jumlahnya sedikit," kata konsultan kesehatan lambung dan pencernaan ini.
Mengingat banyaknya manfaat cabai untuk tubuh, dr Ari mengatakan tidak setuju jika konsumsi cabai harus dikurangi karena kenaikan harganya. "Justru seseorang akan lebih bersemangat kalau mengonsumsi cabai," pungkasnya.
Sumber : www.kompas.com
Last Updated on Tuesday, 11 January 2011 19:07
Kompas.com - Hormon oksitosin, si hormon cinta yang muncul setiap kali kita berinteraksi dengan rasa kasih sayang, ternyata bisa dipakai sebagai terapi untuk mengatasi keluhan sakit kepala berulang.
Hormon oksitosin biasanya muncul ketika ibu memberikan ASI kepada bayinya. Hormon ini juga terkait dengan timbulnya rasa saling percaya dan ikatan emosional.
Dalam sebuah penelitian terhadap 40 pasien yang diberikan satu dosis oksitosin dalam bentuk obat hirupan, 50 persennya melaporkan sakit kepala yang mereka rasakan berkurang hingga setengahnya. Bahkan, 27 persen pasien ini mengatakan mreka tidak merasakan sakit lagi satu jam kemudian.
Sebagai perbandingan, hanya 11 persen pasien yang diberi semprotan placebo mengatakan sakit kepala mereka berkurang hingga separuh empat jam pasca diberikan semprotan.
Seluruh pasien dalam penelitian ini adalah penderita sakit kepala kronik dan menderita serangan sakit kepala sedikitnya 15 kali dalam sebulan. Penyakit ini diderita oleh sekitar 6 juta orang Amerika. Menurut David Yeomans, peneliti yang melakukan riset ini, seluruh partisipan studi sebelumnya pernah mencoba terapi lain namun tidak merasakan hasil berarti.
"Pasien-pasien ini sudah mencoba berbagai cara dan tidak ada yang bisa mengusir keluhan mereka," kata Yeomans, peneliti dari Stanford University School of Medicine.
Hormon oksitosin bekerja di dalam sistem saraf dengan cara menghambat dikeluarkannya sinyal rasa sakit. Sayangnya efek dari hormon ini agak lama, yakni 4 jam, jauh lebih lama dibanding terapi sakit kepala lainnya.
Saat ini baru dua terapi yang menunjukkan hasil efektif untuk mengatasi sakit kepala kronik, yang pertama adalah suntikan botox. Terapi tersebut sudah mendapat persetujuan dari FDA pada Oktober 2010 lalu. Terapi lain adalah obat yang disebut topiramate.
Meski kedua terapi itu menunjukkan hasil yang signifikan dibanding dengan placebo, namun tidak semua pasien terbantu dengan terapi itu karena penyakitnya sering kambuh kembali.
Kedua jenis terapi juga menimbulkan efek samping, misalnya topiramete yang memengaruhi efek kognisi dan suntik botox harus diulang setiap tiga bulan sekali. Suntik botox juga memiliki efek samping serius, seperti sesak napas dan kesulitan menelan.
Sementara itu terapi oksitosin tidak menunjukkan adanya efek samping. Namun dampak jangka panjang terhadap terapi ini belum diketahui, selain juga jumlah partisipan studi yang terlalu sedikit. Karena itu penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk mengetahui keamanan si hormon cinta ini untuk mengusir sakit kepala.
Sumber : www.kompas.com
Last Updated on Tuesday, 11 January 2011 19:05
Last Updated on Tuesday, 11 January 2011 19:05
KOMPAS.com — Kekurangan kalium di dalam darah (hipokalemia) bisa menyebabkan gangguan jantung. Selain untuk kontraksi otot-otot tubuh, kalium juga berfungsi sebagai pengantar listrik persyarafan seluruh tubuh. Kalium yang memadai dalam tubuh berfungsi sebagai penyeimbang asam-basa tubuh.
Gangguan keseimbangan ini akan mengganggu kondisi tubuh secara keseluruhan. Ketidakseimbangan ini lebih mencemaskan bila sudah mengganggu fungsi jantung sehingga terjadi gangguan irama jantung.
Untuk mencegahnya, penuhi kebutuhan kalium tubuh. Kalium bisa didapatkan dari susu skim, burger, daging, dan tomat. Namun, asupan kalium terbesar bisa didapatkan dari buah-buahan.
Di antara buah-buahan, semangka dan pisang paling banyak kandungan kalium. Sedikitnya 1-2 buah pisang sehari mencukupi kebutuhan tubuh akan kalium.
Sumber kalium lain adalah kurma dan kismis. Tomat juga lumayan banyak mengandung kalium. Dalam takarang sedang, tomat memberikan 340 mg kalium, separuh kandungan kalium dalam pisang. Selain itu jeruk, alpukat, dan stroberi sama banyak kandungan kaliumnya.
Sumber : www.kompas.com
Last Updated on Tuesday, 11 January 2011 17:41
Napas Ngos-ngosan Pertanda Kapasitas Paru-paru Melemah
Jakarta, Kapasitas paru-paru untuk menampung oksigen hanya bisa diukur oleh dokter ahli. Namun untuk sekedar memperkirakan, ritme pernapasan saat beraktivitas bisa menjadi patokan bagi orang awam. Jika mudah ngos-ngosan, tandanya kapasitas paru-paru melemah.
Kapasitas paru-paru yang disebut dengan VO2max merupakan salah satu parameter kebugaran seseorang. Semakin besar nilai VO2max yang terukur, makin besar pula kemampuan paru-paru untuk menyuplai oksigen saat beraktivitas.
Jika kemampuan paru-paru untuk oksigen terbatas, napas akan terasa ngos-ngosan saat melakukan aktivitas yang lebih berat. Paru-paru dan jantung akan bekerja lebih berat untuk memompa oksigen yang dibutuhkan oleh otot agar dapat berfungsi dengan baik.
"Ngos-ngosan itu tandanya kapasitas fungsi paru-paru tidak baik," ungkap Dr Nury Nuswinuringtyas, Sp.KFR(K), M.Epid saat ditemui usai sidang promosi doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta, Selasa (11/1/2011).
Dr Nury menjelaskan, beberapa faktor dapat mempengaruhi kapasitas fungsi paru-paru. Aktivitas fisik sehari-hari merupakan salah satu faktor utama sehingga orang dengan gaya hidup sendetary atau kurang gerak cenderung memiliki kapasitas fungsi yang rendah.
Faktor lain yang cukup signifikan pengaruhnya adalah tinggi badan. Makin tinggi perawakan seseorang, panjang langkah (step length) semakin jauh sehingga paru-paru bisa bekerja lebih efisien saat berjalan kaki karena untuk jarak tempuh yang sama jumlah langkahnya akan lebih sedikit.
Usia juga mempengaruhi sebab semakin tua umur seseorang maka kemampuan bergeraknya akan semakin menurun. Dr Nury mencontohkan, seseorang pada usia 20-an tahun akhir hingga 30-an tahun akan lebih cepat ngos-ngosan saat harus mengikuti gerakan anak kecil yang sedang lincah-lincahnya bermain.
Selain mempengaruhi kemampuan tubuh untuk beraktivitas, Dr Nury menambahkan bahwa kapasitas fungsi paru-paru juga berhubungan dengan daya tahan tubuh. Jika suplai oksigen menurun, sistem kekebalan tubuh dengan sendirinya akan melemah sehingga orang mudah sakit-sakitan.
"Cara terbaik untuk meningkatkan kapasitas fungsi paru-paru adalah dengan rajin berolahraga," kata doktor berusia 57 tahun yang punya hobi menulis tersebut.
sumber : www.detikhealth.com
Page 1 of 4